....Selamat Datang Di Blog Wasbitnak, Menuju Wasbitnak Profesional ....Selamat Datang Di Blog Wasbitnak, Menuju Wasbitnak Profesional....
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 November 2013

Penyusunan SNI Sapi Perah Holstein Indonesia

Sabtu, 23 November 2013 di Bogor, dilakukan rapat teknis penyusunan SNI sapi perah holstein Indonesia. Hadir pada pertemuan tersebut pakar sapi perah yakni Dr. Drh. Palawarukka dan Drh. Kurnia Ahjadi serta staf dari Direktorat Perbibitan Ternak.

Penyusunan SNI bibit sapi perah holtein Indonesia ini dianggap penting dalam merumuskan kriteria bibit sapi tersebut sebagai upaya peningkatan proses produktivitas dan ketersediaan holstein di Indonesia. 

Hal yang menarik untuk dicermati saat pembahasan adalah adanya permintaan peserta publik hearing untuk menurunkan persyaratan produksi susu induk menjadi 4500 kg. Namun permintaan tersebut disarankan oleh pakar agar tidak dilakukan karena nilai pada SNI sebesar 5000 kg merupakan nilai dari perhitungan 305.2xME yang setelah dikonversi pada  laktasi I di umur 2,5 tahun (ME setara koefisien 1,24) menghasilkan produksi susu sebesar 4032 kg. Hasil tersebut masih lebih rendah dari yang diperoleh di lapang yakni sebesar 4500 kg.

Selain itu, pencantuman lingkar dada sebagai persyaratan kuantitatif sapi perah Holstein Indonesia dimaksudkan untuk memberikan kemudahan dalam mengestimasi bobot badan dilapangan karena hanya menggunakan pita ukur sebagai alternatif timbangan.

Ke depan, standar peran sapi perah holstein yang merupakan port of folio sapi perah Indonesia akan terus disesuaikan mengikuti perkembangan dan perubahan yang ada dimasyarakat agar kemanfaatannya semakin baik terutama dalam mendukung Swasembada Susu 2020. *HCM*     

Rabu, 12 Juni 2013

Pertemuan Wasbitnak Jawa Tengah




Pertemuan teknis Pejabat Fungsional Pengawas Bibit Ternak yang dilaksanakan di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah  pada tanggal 11 Juni 2013 memiliki peran penting bagi Wasbitnak dalam menyampaikan ide, gagasan, pemikiran dan melakukan diskusi terhadap isi – isu terkini terkait tugas dan fungsinya.
     
Tujuan diadakannya pertemuan ini adalah :
1.  Koordinasi Wasbitnak Pusat, Provinsi dan Daerah agar memiliki persamaan persepsi dan pemahaman mengenai tugas dan fungsi Wasbitnak dalam melakukan pengawasan.
2.      Untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap menuju Wasbitnak yang profesional

 Tema  :  “Meningkatkan Sinergitas Pengawas Bibit Ternak dalam Membangun Perbibitan di Jawa Tengah” ,  Jumlah peserta yang hadir 25 orang dari undangan 40 orang ( sebagian masih diklat dasar di Kupang ). 

 Penyampaian Materi :
a.    8 Rumpun Plasma Nutfah Lokal Jawa Tengah
-       Disampaikan oleh  : Ir. IGN. Hariyanta Nugraha, MSi Jabatan Kepala Bidang Produksi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov Jateng
-       Kisi Materi :
o  Pengenalan 8 jenis ternak plasma nutfah Jawa Tengah yang sudah ditetapkan melalui SK Mentan
o  Wilayah sebaran ternak dan jumlah populasinya
o  Keunggulan masing – masing ternak dan prospek pengembangannya.
-       Arahan terkait Tupoksi Wasbitnak
o  Bagi Daerah yang belum mempunyai tenaga Wasbitnak dan mempunyai potensi plasma nutfah lokal yang harus dikembangkan maka didorong untuk bergabung ke jabatan fungsional Wasbitnak supaya lebih terfokus dalam pendampingan kegiatan perbibitan di Daerah.

b.    Profesionalisme Pengawas Bibit Ternak
-    Disampaikan oleh  : Ir. Rachmiati Djuddawi, Koordinator Pengawas Bibit Ternak Pusat
-      Kisi Materi :
·         Tupoksi Wasbitnak
·         Kompetensi Wasbitnak
·         Profesionalisme Wasbitnak
·         Attitude dan cita – cita Wasbitnak
-      Arahan :
Wasbitnak walaupun pelan namun pasti harus terus berkembang dan diakui eksistensinya di daerah dalam kegiatan perbibitan sehingga harus meningkatkan kompetensi diri dan bekerja secara profesional

c.    Peran Wasbitnak dalam Pengawalan Kegiatan Perbibitan di Daerah
-      Disampaikan oleh  : Rahayu Kusumaningrum, S.Pt, Koordinator Pengawas Bibit Ternak Provinsi Jawa Tengah
-      Kisi Materi :
·       Tahap – Tahap Pengawalan Perbibitan di Kelompok Pembibit
·       Uji Coba Kerjasama Pengawalan Perbibitan Wasbitnak Provinsi dengan Wasbitnak Kab/Kota dalam pendampingan Kelompok Pembibit minimal 1 Kelompok Kerja Wasbitnak mendampingi 1 Kelompok Pembibit dengan dukungan dana oprasional dan bantuan sarana prasarana dari Dinas Provinsi.
Lokasi Kerjasama :
1.    Calon Wasbitnak Kab Klaten sasaran Kelompok Ternak Sapi Perah
2.    Wasbitnak Kab Semarang sasaran Kelompok Ternak Sapi Perah
3.    Wasbitnak Kab Purwokerto sasaran Kelompok Ternak Sapi Perah
4.    Calon Wasbitnak Kab Banjarnegara sasaran Kelompok Ternak Domba Batur
5.    Calon Wasbitnak Kab Rembang sasaran Kelompok Ternak Sapi Potong
6.    Calon Wasbitnak Kab Blora sasaran Kelompok Ternak Sapi Potong
7.    Calon Wasbitnak Kab Grobogan sasaran Kelompok Ternak Sapi Potong
8.    Wasbitnak Kab Brebes sasaran Kelompok Ternak Sapi Jabres dan Kerbau
9.    Calon Wasbitnak Kab Jepara sasaran Kelompok Ternak Kambing PE
10. Wasbitnak dan calon Kab Cilacap sasaran Kelompok Ternak Sapi Potong
11. Calon Wasbitnak Kab Magelang sasaran Kelompok Ternak Itik MagelanG

-      Arahan :
Tingkatkan koordinasi dan sinergitas kegiatan perbibitan antara Wasbitnak Provinsi dengan Wasbitnak Kab/Kota dan saling membantu apabila ada kesulitan dalam melaksanakan tupoksinya.

                 d.    Hasil Diskusi untuk Kegiatan di tahun mendatang
-      Pertemuan tahun depan lebih diarahkan ke arah “ Focus Group Discussion” dengan Penyaji dari Wasbitnak Kab/Kota yang ditunjuk dan akan dilaksanakan Kunjungan Lapangan
-      Mengusulkan adanya Lomba Wasbitnak Berprestasi
-      Wasbitnak Kab/Kota didorong untuk segera membentuk Tim Penilai SKLB bekerjasama dengan unsur lainnya di Dinas masing – masing untuk mendukung program rekording di kelompok dan diharapkan didukung dengan pendanaan untuk pemeriksaan ternak dan cetak SKLB yang selama ini belum teranggarkan.
-      Untuk meningkatkan kompetensinya Wasbitnak perlu berpartisipasi aktif dalam Diklat – Diklat Teknis terkait terutama Diklat Rekorder dan Selektor
-      Mendukung realisasi Uji Kompetensi untuk Wasbitnak dan realisasi BOP
 ( Biaya Oprasional Pengawasan )


AYOOOOO, DARI PROVINSI MANA LAGI YANG MAU MENYUSUL ........

JAYALAH WASBITNAK


       

Senin, 10 Juni 2013

Uji Kompetensi Guidelines

Bahwa dalam rangka meningkatkan kompetensi Pengawas Bibit Ternak dan sekaligus sebagai tindak lanjut dari Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 02 Tahun 2011 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Bibit Ternak dan Angka Kreditnya khususnya pada BAB III yang mengamanahkan bahwa Instansi Pembina Jabatan Fungsional Pengawas Bibit Ternak adalah Kementerian Pertanian, dan salah satu tugas Instansi Pembina adalah menetapkan standar kompetensi jabatan fungsional Pengawas Bibit Ternak, yang selanjutnya akan dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian tentang Uji Kompetensi Pengawas Bibit Ternak yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengawas Bibit Ternak.

Uji Kompetensi dilaksanakan dalam rangka mengidentifikasi pejabat fungsional Pengawas Bibit Ternak yang mampu melaksanakan tugas secara profesional dalam kegiatan pengawasan bibit ternak.


Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas telah dilakukan penyusunan Peraturan Menteri Pertanian tentang Pedoman Uji Kompetensi Pengawas Bibit Ternak, di Hotel Pangrango I-Bogor, sehingga diharapkan mampu mewujudkan Pengawas Bibit Ternak yang profesional dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab sesuai jabatannya

Maksud dilakukannya penyusunan pedoman ini antara lain adalah untuk:
a.    Sebagai panduan bagi Tim Penguji dalam melaksanakan uji kompetensi bagi Pengawas Bibit Ternak yang berkedudukan di pusat maupun daerah.
b.    Sebagai panduan bagi Tim Penguji dalam mengidentifikasi Pengawas Bibit Ternak yang memenuhi syarat kompetensi untuk pengangkatan pertama kali, pengangkatan dari jabatan lain dan kenaikan jenjang jabatan.
c.    Sebagai panduan bagi pejabat fungsional Pengawas Bibit Ternak dalam memahami ruang lingkup tugas kegiatan pada jenjang jabatan yang akan diduduki, dan mekanisme uji kompetensi. (*hcm)


Kamis, 30 Mei 2013

Materi Pertemuan

Pertemuan Tahunan Pengawas Bibit Ternak ke 11 yang dilaksanakan di Hotel The Hills Bukittinggi,

dihadiri oleh wasbitnak pusat, UPT dan daerah. Acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan

pengetahuan, keterampilan dan sikap seorang wasbitnak menuju profesional.

Acara ini memuat informasi yang dapat meningkatkan wawasan antara lain :

1. Pengelolaan Sapi Pesisir di Ranah Minang

2. Sertifikat Bibit dan SKLB

3. Peran Wasbitnak dalam Perbibitan Nasional

4. Peran Wasbitnak dalam Mendukung Pengembangan Ternak KUPS

5. Peran Wasbitnakdi Era Reformasi Birokrasi.

6. Uji Kompetensi untukWasbitnak.

Rabu, 29 Mei 2013

SAPI PESISIR DI RANAH MINANG

Diskusi mengenai sapi pesisir telah dilakukan pada hari tanggal 29 Mei 2013, di Bukittinggi. Paparan mengenai sapi pesisir di Ranah Minang disampaikan oleh Dr. Ir Sarbaini, MSc yang merupakan salah satu pengajar di Universitas Andalas. Dalam paparannya Pak Bain (panggilan Dr. Ir Sarbain, MSc), menyampaikan bahwa sapi Pesisir adalah bangsa sapi pertama yang dikenal masyarakat di Ranah Minang (Sumatera Barat), namun semenjak masuknya berbagai bangsa sapi baru ke daerah ini populasi rumpun sapi ini terkonsentrasi di sepanjang daerah pesisir barat mulai dari Kecamatan Indrapura di Kabupaten Pesisir Selatan (ujung Selatan) sampai ke Kecamatan Ranah Pasisie di Kabupaten Pasaman Barat (ujung Utara) dan terbanyak terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan. Sapi ini berfungsi sebagai tabungan bagi masyarakat dan berperan penting dalam penyediaan daging dan hewan qurban bagi masyarakat daerah ini, bahkan untuk hewan qurban sudah sampai ke provinsi tetangga Riau.

Sapi Pesisir ini memiliki ciri khas antara lain ukuran tubuh kecil, kaki ramping, berwarna tunggal, bagian dalam tubuh berwarna agak muda, tanduk kecil dan pendek, punuk kurang terlihat jelas, dan bergelambir pendek (tidak melebar seperti PO). Sapi ini memiliki beberapa keunggulan seperti daya adaptasi yang baik terhadap pakan berkualitas rendah dan daya tahan terhadap berbagai jenis penyakit dan parasit.

Sapi ini dipelihara masyarakat secara ekstensif tradisional dengan sedikit sekali campur tangan pemilik (zero cost management), hijauan yang dikonsumsi terdiri dari berbagai jenis hijauan mulai dari rumput lapangan, jerami padi, anakan padi setelah panen, daun pisang, kulit pisang, daun ubi, dsb tanpa pemberian pakan tambahan. Akibat dari makanan seadanya ini, rumpun sapi ini rata-rata memiliki kondisi tubuh kurus sampai sedang, namun masih mampu berkembang biak dengan 

Berdasarkan hasil diskusi dan pemikiran peserta, di simpulkan bahwa pengelolaan yang belum optimal menyebabkan potensi sapi pesisir ini terabaikan. Diperlukan dukungan data ilmiah yang valid terkait dengan aspek reproduksi (umur birahi, Calving Interval, dll)  dan produksi (bobot badan lahir, sapi dan dewasa serta ukuran tinggi dan panjang tubuh) sapi pesisir ini sehingga ke depan akan ada pemurnian yang lebih terarah.

Semoga nantinya potensi sapi pesisir yang telah ada di Sumatera Barat Sejak abad ke 18 akan terlihat dan akan memberikan kontribusi bagi kemajuan peternakan dimasa yang akan datang. Semoga..... (cakra).

Note: Silahkan Download Materi Paparan Dr. Ir. Sarbaini, MSc dengan meng-klik disini